Detail Koleksi
Informasi Lengkap Buku
Stok Tersedia
1
Halaman
-
800 - Sastra
Seribu Burung Bangau
oleh Yasunari Kawabata
Tersedia
ISBN:
978-979-168-517-7
Detail Buku
Penerbit
NARASI
Tahun Terbit
2017
Bahasa
Indonesia
Lokasi Rak
Sinopsis / Ringkasan
**Sinopsis *Seribu Burung Bangau***
*Seribu Burung Bangau* (*Thousand Cranes*) adalah novel karya **Yasunari Kawabata** yang mengisahkan hubungan manusia yang rumit, penuh simbol, dan sarat pergulatan batin. Cerita berpusat pada **Kikuji**, seorang pemuda yang terjerat masa lalu ayahnya melalui hubungan dengan beberapa perempuan yang pernah menjadi bagian dari kehidupan sang ayah.
Melalui peristiwa-peristiwa yang tampak sederhana, seperti upacara minum teh, Kawabata menggambarkan konflik emosional, rasa bersalah, cinta yang terpendam, serta bayang-bayang warisan moral dari generasi sebelumnya. Tokoh-tokoh perempuan dalam novel ini tampil dengan kepekaan dan kerentanan yang mencerminkan penderitaan batin akibat relasi yang tidak seimbang dan norma sosial yang menekan.
Simbol **burung bangau**, yang dalam budaya Jepang melambangkan kemurnian, harapan, dan keabadian, menjadi kontras dengan realitas hubungan antarmanusia yang rapuh dan penuh luka. Gaya bahasa Kawabata yang puitis, tenang, dan penuh keheningan menghadirkan suasana melankolis sekaligus reflektif, mengajak pembaca merenungkan makna cinta, kesucian, dan tanggung jawab moral.
Sebagai karya sastra modern Jepang, *Seribu Burung Bangau* tidak hanya menawarkan kisah personal, tetapi juga potret budaya dan estetika Jepang yang halus. Novel ini merupakan refleksi mendalam tentang hubungan manusia, trauma masa lalu, dan pencarian makna hidup, yang menjadikannya salah satu karya penting dalam sastra dunia.
*Seribu Burung Bangau* (*Thousand Cranes*) adalah novel karya **Yasunari Kawabata** yang mengisahkan hubungan manusia yang rumit, penuh simbol, dan sarat pergulatan batin. Cerita berpusat pada **Kikuji**, seorang pemuda yang terjerat masa lalu ayahnya melalui hubungan dengan beberapa perempuan yang pernah menjadi bagian dari kehidupan sang ayah.
Melalui peristiwa-peristiwa yang tampak sederhana, seperti upacara minum teh, Kawabata menggambarkan konflik emosional, rasa bersalah, cinta yang terpendam, serta bayang-bayang warisan moral dari generasi sebelumnya. Tokoh-tokoh perempuan dalam novel ini tampil dengan kepekaan dan kerentanan yang mencerminkan penderitaan batin akibat relasi yang tidak seimbang dan norma sosial yang menekan.
Simbol **burung bangau**, yang dalam budaya Jepang melambangkan kemurnian, harapan, dan keabadian, menjadi kontras dengan realitas hubungan antarmanusia yang rapuh dan penuh luka. Gaya bahasa Kawabata yang puitis, tenang, dan penuh keheningan menghadirkan suasana melankolis sekaligus reflektif, mengajak pembaca merenungkan makna cinta, kesucian, dan tanggung jawab moral.
Sebagai karya sastra modern Jepang, *Seribu Burung Bangau* tidak hanya menawarkan kisah personal, tetapi juga potret budaya dan estetika Jepang yang halus. Novel ini merupakan refleksi mendalam tentang hubungan manusia, trauma masa lalu, dan pencarian makna hidup, yang menjadikannya salah satu karya penting dalam sastra dunia.
Informasi Eksemplar
1 Eksemplar| Barcode | Status | Lokasi |
|---|---|---|
|
SBB001
Fiksi
|
Tersedia | RAK 1 LANTAI 5 |